Maskapai penerbangan nasional Suriah, Syrian Air, memasuki babak baru dalam upaya pembenahan dan modernisasi sektor penerbangan sipil. Langkah ini ditandai dengan penunjukan Anwar Akkad sebagai Presiden Direktur Syrian Air, sosok berpengalaman panjang di industri aviasi internasional.
Anwar Akkad dikenal sebagai kapten pilot senior di Etihad Airways dengan jam terbang melampaui 17 ribu jam. Selain berkarier sebagai pilot, ia juga berpengalaman sebagai auditor internasional keselamatan dan kualitas operasional penerbangan.
Penunjukan Akkad dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Syrian Air mulai serius membangun kembali kredibilitas, keselamatan, dan standar operasionalnya setelah bertahun-tahun berada dalam tekanan akibat konflik dan sanksi.
Sumber internal industri penerbangan menyebutkan, latar belakang Akkad di maskapai kelas dunia memberi harapan baru terhadap reformasi manajemen, peningkatan disiplin keselamatan, serta efisiensi operasional di tubuh Syrian Air.
Dalam konteks yang sama, Direktur Syrian Air Samah Arabi menggelar pertemuan penting dengan delegasi perwakilan Etihad Airways di Damaskus. Pertemuan ini membahas berbagai peluang kerja sama strategis di sektor transportasi udara.
Pembahasan tersebut mencakup kemungkinan pembukaan rute baru antara Suriah dan Uni Emirat Arab, serta langkah-langkah untuk mempermudah mobilitas penumpang kedua negara.
Kerja sama ini dipandang penting untuk mendukung pemulihan konektivitas Suriah dengan jaringan penerbangan regional dan internasional, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi dan sosial lintas negara.
Selain rute penerbangan, kedua pihak juga mendiskusikan peluang pengembangan perjanjian codeshare. Skema ini memungkinkan maskapai berbagi kode penerbangan untuk memperluas jangkauan layanan tanpa harus menambah armada secara signifikan.
Tak hanya itu, pertukaran pengalaman di bidang pemasaran, layanan penumpang, dan manajemen operasional turut menjadi agenda pembahasan dalam pertemuan tersebut.
Pihak Suriah menilai transfer pengetahuan dari maskapai besar seperti Etihad akan membantu Syrian Air beradaptasi dengan praktik terbaik industri penerbangan modern.
Di sisi lain, muncul perhatian publik terkait keputusan Emirates Airlines menangguhkan penerbangan reguler Dubai–Damaskus. Keputusan ini sempat memicu spekulasi tentang kondisi bandara Suriah.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Humas Otoritas Penerbangan Sipil dan Transportasi Udara Suriah, Alaa Sallal, menegaskan bahwa keputusan Emirates murni bersifat operasional internal.
Menurutnya, penangguhan rute tersebut merupakan bagian dari evaluasi rutin penggunaan armada yang lazim dilakukan maskapai global, dan tidak berkaitan dengan perubahan kondisi atau standar operasional bandara Suriah.
Sallal menekankan bahwa bandara-bandara Suriah tetap beroperasi sesuai standar internasional yang berlaku dan terus memberikan layanan penerbangan secara normal.
Ia juga menyampaikan harapan agar Emirates Airlines dapat kembali membuka penerbangan ke Damaskus pada waktu yang dinilai tepat oleh pihak maskapai.
Pihak Emirates sebelumnya menyatakan bahwa seluruh penumpang terdampak akan dialihkan dan dijadwalkan ulang melalui penerbangan Flydubai, guna menjaga kelancaran perjalanan.
Kebijakan ini dipandang sebagai solusi sementara yang tetap menjaga konektivitas udara antara Suriah dan Uni Emirat Arab.
Di tengah dinamika tersebut, sinergi antara Syrian Air dan Etihad dinilai sebagai perkembangan positif yang patut dicatat dalam konteks pemulihan sektor penerbangan Suriah.
Analis penerbangan menilai, kehadiran figur profesional internasional di manajemen Syrian Air akan mempercepat transformasi internal maskapai tersebut.
Dengan kombinasi kepemimpinan baru, pembukaan jalur kerja sama regional, serta upaya menjaga standar keselamatan, Syrian Air diproyeksikan mulai melangkah keluar dari fase stagnasi.
Meski tantangan masih besar, langkah-langkah terbaru ini menunjukkan bahwa industri penerbangan Suriah perlahan bergerak menuju stabilitas dan integrasi kembali dengan jaringan aviasi regional.
Pembukaan kembali bandara-bandara di wilayah Suriah yang kini telah dikuasai penuh oleh pemerintah dipandang sebagai momentum penting bagi kebangkitan industri aviasi nasional. Langkah ini bukan sekadar pemulihan infrastruktur, tetapi juga simbol kembalinya fungsi negara dalam menghubungkan wilayah-wilayah strategis setelah bertahun-tahun terfragmentasi oleh konflik.
Bandara baru maupun bandara yang direhabilitasi akan memperluas jaringan transportasi udara domestik, memungkinkan konektivitas antarkota kembali berjalan normal. Kota-kota yang sebelumnya terisolasi kini memiliki akses langsung ke pusat pemerintahan dan ekonomi, tanpa harus bergantung pada jalur darat yang mahal dan berisiko.
Bagi bandara kecil dan lokal, pembukaan ini membuka peluang besar sebagai simpul logistik dan layanan regional. Bandara-bandara tersebut dapat berfungsi sebagai penghubung penerbangan perintis, evakuasi medis, kargo ringan, serta mobilitas aparatur negara dan sektor swasta di daerah.
Aktivasi bandara lokal juga mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di sekitarnya. Kehadiran penerbangan rutin akan memicu kebutuhan jasa pendukung seperti perawatan pesawat ringan, bahan bakar, katering, hingga layanan darat, yang pada akhirnya menyerap tenaga kerja setempat.
Di sisi bandara besar dan internasional, pembukaan wilayah baru memberi tambahan hinterland penumpang dan kargo. Arus penumpang yang sebelumnya terputus kini dapat kembali diarahkan ke bandara utama seperti Damaskus dan Aleppo, meningkatkan utilisasi fasilitas yang sudah ada.
Dengan bertambahnya volume penerbangan domestik, maskapai nasional seperti Syrian Air memperoleh dasar yang lebih kuat untuk merencanakan ekspansi armada dan rute. Konektivitas domestik yang stabil menjadi prasyarat penting sebelum membuka kembali rute regional dan internasional secara berkelanjutan.
Pembukaan bandara di wilayah yang aman juga meningkatkan kepercayaan mitra asing. Maskapai regional, perusahaan logistik, dan penyedia jasa teknis cenderung lebih terbuka menjalin kerja sama ketika jaringan bandara nasional kembali berfungsi secara utuh.
Dari sisi regulasi, pemerintah dapat mulai menerapkan standar operasional dan keselamatan yang seragam di seluruh bandara. Hal ini akan memperkuat tata kelola penerbangan sipil dan memudahkan integrasi Suriah ke dalam sistem aviasi internasional.
Selain penumpang, sektor kargo udara diperkirakan menjadi salah satu penerima manfaat utama. Bandara baru memungkinkan distribusi cepat barang kebutuhan pokok, suku cadang, dan hasil produksi lokal ke pasar domestik maupun ekspor.
Secara keseluruhan, pembukaan bandara baru di Suriah tidak hanya memperkuat peran bandara besar dan internasional, tetapi juga mengangkat kembali fungsi bandara kecil dan lokal. Jika dikelola secara konsisten dan aman, langkah ini dapat menjadi fondasi kebangkitan industri aviasi Suriah dalam jangka menengah dan panjang.
loading...
