Hampir seluruh gubernur di provinsi strategis selatan Yaman kini menunjukkan dukungan terbuka kepada Presidential Leadership Council (PLC). Fenomena ini menandai pergeseran politik signifikan yang memengaruhi peta kekuasaan di wilayah yang sebelumnya dikuasai Southern Transitional Council (STC).
Di provinsi Lahej, Gubernur Ahmad Abdullah Turki resmi menyatakan dirinya kembali loyal kepada PLC. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya provinsi tersebut dikenal sebagai basis penting STC.
Sementara itu, di Abyan, Sheikh Walid bin Nasser al-Fadhli, selaku wakil gubernur sekaligus pemimpin aliansi suku, juga memutuskan meninggalkan STC dan mendukung PLC. Langkah ini dianggap simbolik sekaligus strategis karena suku setempat memainkan peran penting dalam stabilitas wilayah.
Tren pergeseran dukungan ini sebelumnya sudah terlihat di Hadramaut, Shabwa, dan Al Mahra. Kini, dengan Lahej dan Abyan ikut bergeser, posisi STC menghadapi tekanan politik yang semakin berat.
Banyak analis menyebut pernyataan seperti “rantai terlepas dari Aidarus al-Zubaidi secara paksa” menunjukkan bahwa struktur dukungan STC mulai runtuh di level lokal. Tokoh yang sebelumnya loyal kini kembali ke jalur PLC.
Secara politis, fenomena ini memperkuat posisi PLC untuk mengonsolidasikan kekuasaan di selatan tanpa harus menghadapi perlawanan bersenjata yang besar. Dukungan gubernur memberi legitimasi formal dan simbolik bagi PLC.
Dengan gubernur lokal berpihak, PLC bisa mendapatkan akses langsung ke administrasi daerah, termasuk kantor pemerintahan, logistik, dan jaringan intelijen. Hal ini mempercepat konsolidasi kekuasaan secara damai.
Namun, secara militer, STC masih memiliki kemampuan terbatas, terutama di Aden dan beberapa basis di selatan. Meskipun kehilangan dukungan politik, pasukan STC belum sepenuhnya mundur dari garis pertahanan mereka.
Pergeseran ini membuka peluang bagi PLC untuk memasuki provinsi-provinsi strategis. Dukungan gubernur membuat jalur administratif dan logistik lebih mudah diakses, sehingga pasukan PLC dapat bergerak dengan risiko minimal.
Di Lahej, misalnya, loyalitas gubernur memungkinkan PLC memanfaatkan fasilitas pemerintah, memobilisasi pasukan keamanan lokal, dan mengatur titik kontrol jalan raya. Ini sangat penting untuk operasi militer atau keamanan sipil.
Di Abyan, pengaruh tokoh suku lokal mempermudah PLC untuk menjalin komunikasi dengan komunitas setempat dan menenangkan potensi konflik internal. Dukungan suku ini sering menjadi kunci stabilitas jangka panjang.
Secara keseluruhan, dukungan gubernur tidak hanya memberi legitimasi politik, tetapi juga mengurangi kebutuhan PLC menggunakan kekuatan militer secara besar-besaran untuk masuk ke provinsi tersebut.
Banyak pengamat menilai bahwa kombinasi legitimasi gubernur dan dukungan suku akan mempercepat transisi administrasi dari STC ke PLC. Ini bisa menjadi model bagi provinsi lain yang masih dikuasai STC.
Meski demikian, PLC tetap harus berhati-hati. Pasukan STC di beberapa titik masih siap menghadapi infiltrasi atau ancaman dari luar, sehingga perencanaan logistik dan intelijen tetap krusial.
Dukungan gubernur juga memberi sinyal kepada masyarakat lokal bahwa PLC bukan ancaman, melainkan otoritas sah yang kembali hadir. Ini dapat mengurangi resistensi sipil terhadap pasukan yang masuk.
Secara simbolik, keberpihakan gubernur membuat STC tampak semakin terisolasi. Jika tren ini berlanjut, PLC akan menguasai hampir seluruh provinsi selatan secara formal dan politik.
Bagi STC, fenomena ini menjadi peringatan bahwa dukungan lokal dan administrasi formal lebih menentukan daripada kemampuan militer semata. Kekuatan politik lokal kini menentukan arah konflik.
Selain itu, konsolidasi PLC melalui gubernur juga memungkinkan koordinasi lebih baik dengan koalisi internasional, termasuk Arab Saudi, yang mendukung stabilitas di selatan Yaman.
PLC juga dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembalikan administrasi publik, membayar gaji pegawai, dan menghidupkan kembali layanan dasar yang sempat terhenti akibat konflik.
Dengan langkah-langkah ini, masuknya pasukan PLC ke provinsi-provinsi tersebut tidak lagi menghadapi penolakan politik yang signifikan. Jalur menuju Aden pun semakin terbuka.
Akhirnya, tren dukungan gubernur menunjukkan bahwa politik lokal dan legitimasi administratif kini menjadi kunci pengendalian wilayah. STC, meski masih ada secara militer, menghadapi isolasi politik yang makin nyata, membuka jalan bagi PLC untuk mengonsolidasikan kekuasaan di selatan.
loading...
